Pendidikan

Minggu, 02 Januari 2011

Penggunaan Kata depan


LATAR BELAKANG


Pada umumnya kita menganggap bahwa bahasa Indonesia itu mudah karena setiap hari di sekitar kita mendengar orang menggunakannya, setiap hari pula kita membaca karangan-karangan baik itu dalam surat kabar, majalah, buku, dan sebagainya, yang tertulis dalam bahasa Indonesia. Jadi, telinga kita sudah terbiasa mendengarnya dan mata kita sudah banyak melihat bentuk tulisan. Oleh karena itu, banyak diantara kita menganggap bahwa bahasa Indonesia itu mudah.
Bagi bangsa kita bahasa Indonesia hanyalah merupakan bahasa kedua. Sebab bahasa pertama adalah bahasa daerahnya masing-masing. Yakni bahasa Jawa, Sunda, Madura, Bugis Batak, Sangir, Toraja, Goraontalo, dan sebagainya. Jadi setiap orang di negara kita menguasai sedikitnya dua bahasa sekaligus yaitu bahasa Indonesia daan bahasa daerahnya sendiri.
Namun kenyataan di atas mengakibatkan penguasaan kita terhadap bahasa Indonesia, bahasa nasional kita seakan-akan terganggu oleh bahasa daerah. Karena pada hakikatnya pertumbuhan bahasa Indonesia itu banyak dipengaruhi oleh bahasa daerah. Sehingga tanpa disadari kita seringa berbahasa Indonesia  dengan struktur bahasa daerah. Hal tersebut mengakibatkan banyak penyimpangan atau kekeliruan dalam menggunakan bahasa Indonesia.
Dalam makalah ini penulis akan mengemukakan tentang beberapa kesalahan berbahasa, terutama dalam menggunakan “kata depan (preposisi), bahasa olahraga, singkatan kata, ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan, serta masalah lafal bahasa Indonesia”
Harapan kami bahwa apa yang akan kami kemukakan dapat jadikan sebagai sumbang saran mengenai bagaimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

KATA DEPAN

(PREPOSISI)

Kata depan biasa juga disebut preposisi. Dalam bahasa Inggris disebut preposition, dan dalam bahasa Belanda disebut voorzetsel.
Dalam bahasa Indonesia ada 3 buah kata depan utama yaitu di, ke, dari. Sebagaimana nama yang diberikan kepada kata itu, maka letak kata-kata itu selalu di depan kata benda, dan menurut ketentuan dalam buku pedoman ejaan baru, kata-kata itu dituliskan terpisah dari kata yang dibelakangnya.

Misalnya: di dalam, di meja, di sana

                   ke dalam, ke pasar, ke sana

                   dari dalam, dari pasar, dari sana
Dari contoh pemakaiannya itu kita melihat bahwa kata-kata depan itu berfungsi menyatakan ‘tempat’ atau ‘arah’. Kata depan di menyatakan tempat, ke menyatakan arah (tujuan), sedangkan dari menyatakan asal atau menyatakan arah yang berlawanan dengan arah yang dinyatakan oleh kata depan ke. Kadang-kadang orang salah menggunakan kata depan di dan ke secara tepat. Misalnya orang mengatakan.
Ibu pergi di pasar.
Harap datang di Bandung besok.
Pemakaian kata depan di dalam kalimat di atas itu salah. Seharusnya dikatakan, Ibu pergi ke pasar; Harap datang ke Bandung besok. Pasar dan Bandung menyatakan arah yang dituju. Pergi selalu diikuti kata depan ke, sedangkan tiba selalu diikuti kata depan di.
Saya tiba di kota itu pukul tujuh pagi.
Kata datang boleh diikuti kata depan di, tetapi boleh juga kata depan ke. Dipakai di apabila dimaksudkan sudah berada di tempat itu, sedangkan bila baru menuju ke tempat yang dituju, haruslah dipakai kata depan ke. Bandingkan:
Ketika saya datang di tempat itu, belum seorang pun hadir.
(datang di sini = tiba)
Dalam pemgumuman melalui radio, kita dengar penggunaan kata depan yang rancu. Dikatakan harap datang di Bandung pada tanggal sekian. Dua buah kalimat yang baik dijadikan satu kalimat yang rancu (kacau), yaitu masing-masing:Harap datang ke Bandung, dan Harap sudah berada di Bandung pada tanggal sekian.
Akan kita bicarakan soal lain lagi. Kata depan di atau ke tidak digunakan untuk semua kata. Di depan beberapa jenis kata benda, alih-alih memakai di atau ke kita pakai kata depan pada atau kepada.
Kata pada kita gunakan di depan:
1)    Kata benda abstrak (tanwujud), misalnya:
Pada sangkanya, pada pikiran saya, pada pendapat Ibu. Disini pada dapat kita ganti dengan menurut: Jadi, menurut persangkaannya, menurut pikiran saya, menurut pendapat Ibu.
2)    Kata ganti orang, misalnya:
Bukan di saya, melainkan pada saya
Bukan di kami, melainkan pada kami
Begitu juga ke diganti dengan kepada
Bukan ke saya, ke dia, ke Ibu, melainkan kepada saya, kepadanya, kepada Ibu.
Pemakaian di seperti pada di saya, di kami, di kita, sering kita dengar di daerah Jawa Barat. Bentuk seperti itu bukanlah bentuk yang baku, melainkan bentuk yang dipengaruhi oleh bahasa daerah. Demikian juga bentuk-bentuk seperti kesayakan, sudah dikesayakan. Keibukan, sudah saya keibukan, adalah bentukan kata yang dipengaruhi bahsa Sunda. Hendaknya dikatakan, berikan kepada saya, suddah diberikan(nya) kepada saya, berikan kepada Ibu, sudah saya berikan kepada Ibu.
3)    Kata bilangan, misalnya:
Pada suatu hari, pada suatu tempat, padaa beberapa negara, namun, ketentuan ini sudah dilanggar orang sekarang. Dalam bahasa Indonesia dewasa ini, orang sudah biasa mengatakan di suatu tempat, di sebuah rumah, di beberapa negara, alih-alih menggunakan kata pada seperti yang sudah saya jelaskan itu. Pada suatu hari masih tetap dikatakan seperti itu, mungkin karena kata itu sudah dianggap sebagai ungkapan tetap.
4)    Kata keterangan yang menyatakan waktu, misalnya:
Pada malam itu, pada bulan puasa, pada hari raya, pada tahun itu.
Kadang-kadang kata depan pada di depan kata keterangan waktu seperti itu dapat kita ganti dengan kata dalam; jadi, dalam bulan puasa, dalam tahun itu.
Pemakaian kata pada di depan kata keterang waktu sudah sering dilanggar orang dewasa ini. Dalam bahasa Indonesia modern, sudah biasa orang mengatakan di malam hari, di bulan puasa, di saat itu.
Demi kecermatan berbahasa, sebaikanya kita menggunakan di dan ke depan kata yang benar-benar menyatakan tempat atau arah, sedangkan dalam beberapa pemakian lain seperti yang sudah saaya terangkan itu kita gunakan kata depan pada atau dalam
Mari kita tinjau pemakian di, ke, dari yang lain.
Ketiga patah kata itu tidak boleh kita hubungkaan dengan akhiran kata ganti –ku, -mu, -nya.
Kita tidak boleh mengatakan dariku, darimu, darinya; oleh sebab, kita tidak boleh juga mengatakan diku,dimu, dinya, atau keku, kemu, kenya. Pemakaian dariku, darimu, darinya hanya boleh dalam bentuk puisi. Dalam hal itu dibolehkan karena biasaanya kepada penyair diberikan semacam kebebasan dalam mengubah puisi yaitu kebebasan yang disebut licencia poetica. Penyair kadang-kaddang terpaksa melanggar kaidah bahasa karena keperluan sajak dan iraama puisi yang digubahnya. Tetapi dalam bahasa biasa, yakni bahasa prosa, hal itu tidak dibenarkan.
Dalam pemakaian seperti itu dari berubah menjadi daripada, jadi,
Bukan dariku, melainkan daripadaku, atau dari saya;
Bukan darimu, melainkan daripadamu, atau dari kamu;
Bukan darinya, melainkan daripadanya, atau dari dia;
Dalam kalimat:
-          nasihat yang saya terima daripadanya akan saya jadikan pedoman dalam hidup saya.
-          Selain daripadamu, dari siapa lagi aku menerima pertolongan?

Dalam bahasa Indonesia dewasa ini, sering kita jumpai orang menggunakan kata dari yang fungsinya menyatakan kepunyaan, atau hubungan kepunyaan; misalnya, nama dari kota ini, atau nama daripada kota ini; mobil dari ayah saya atau daripada ayah saya. Jelas bahwa pengguanaan kata dari atau dari pada seperti itu tidaklah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Di dalambahasa Indonesia, hubungan kepunyaan nyata dalam hubungan dua kata benda yang diletakkan secara berurutan; misalnya, nama kota, mobil ayah, pintu rumah.
Pemakaian alat (unsur bahasa) untuk mengeksplisitkan hubungan kepunyaan dengan kata dari atau daripada seperti dalam contoh-contoh yang sudah diberikan itu dipengaruhi oleh struktur bahasa Belanda atau Inggris. Kata dari atau daripada itu jelas merupakan terjemahan secara harfiah bahasa Inggris atau Belanda. Misalnya,
The name of this town             =          nama dari (pada) kota ini
De auto van mijn veder           =          oto dari (pada) ayah saya
Dalam bahasa Indonesia, kata dari atau daripada seperti itu hendaknya tidak digunakan. Begitu juga contoh lain seperti sampul buku, kaki meja, baju Ibu, atap rumah, kelereng Udin.
Dapat kita duga bahwa struktur seperti itu timbul ketika orang menerjemahkan bahasa asing kebahasa Indonesia. Karena tak ada penguasaan penerjemah terhaddap struktur frase atau kalimat bahasa Indonesia, lahirlah ujaran atau tulisan yang berstruktur bahasa asing dengan kata-kata Indonesia. Lalu, orang lain yang tidak menguasai bahasa asing itu juga membuat kesalahan sama karena dia meniru penggunaan bahsa yang salah tadi. Dengan demikian tersebarlah pemakaian bahasa yang salah.

Mari kita perinci fungsi pemakian kata dari dengan maknanya

1)    Dari dapat menyatakan tempat asal; misalnya,
Saya datang dari Medan.
2)    Dari menyatakan bahan; misalnya
Cincinnya terbuat dari emas.
3)    Dari sama artinya dengan sejak; misalnya,
Dari pagi dia belum makan.
4)    Dari sama artinya dengan sebab; misalnya,
Dari marahnya ditamparnya itu.
5)    Dari yang diikuti kata hal (= dari hal) sama artinya dengan tentang; misalnya
Ia membuat karangan dari hal bertanam cengkih
6)    Dari yang menyatakan makna pemisahan; misalnya.
            Anda harus menjauhkan diri dari perbuatan jahat itu.

Pemakaian kata daripada:
1)    Pada umumnya kata dipakai dalam kalimat perbandingan. Jadi untuk menyatakan perbandingan; misalnya,
Lebih baik mati daripada hidup bercermin bangkai.
2)    Daripada sama artinya dengan terdiri atas; misalnya,
Harta benda baginda daripada intan berlian, zamrud, dan ratna mutu manikam yang tiada ternilai harganya.
3)    Sama dengan pemakaian kata dari yang menyatakan bahan atau menyatakan pemisahan seperti yang sudah dijelaskan tadi; misalnya,
Cincin itu terbuat daripada emas.
Perlu pula saya kemukakan di sini bahwa kata kepada sering disingkatkan orang menjadi pada saja. Jadi, kata depan ke-nya dihilangkan. Hal yang sama kita lihat pada di dalam, di depan, di sebelah, yang dihilangkan orang di-nya sehingga yang tinggal hanyalah dalam, depan, sebelah.
Contoh pemakaiannya dalam kalimat,
1)    Berikan uang itu pada Ibu. (= kepada)
2)    Dalam sungai itu banyak ikan.(= di dalam)
3)    Siti duduk sebelah kiri saya. (=di sebelah)
4)    Mobil itu berhenti depan rumah kami (=di depan)
Kata pada tempatnya, tidak pada tempatnya, sudah pada tempatnya, sudah merupakan ungkapan dalam bahasa Indonesia. Demikian juga dalam pada itu sebuah ungkapan yang sama artinya dengan dalam hal itu, atau sementara itu.
Contoh pemakaiannya dalam kalimat,
1)    Dalam pada itu, usaha untuk menolong melepaskan dia dari jeratan hukum itu tetap sia-sia saja.
2)    Tidak pada tempatnya Anda menempelak adik Andadi depan kawan-kawannya. Dia tentu malu.

Kata depan oleh :
Persoalan pertama kata depan oleh ialah: Ada kata depan oleh yang dapat dihilangkan dalam kalimat, artinya pemakaiannya tidak merupakn suatu keharusan benar, jadi, boleh dipakai, boleh juga tidak. Namun, ada juga kata oleh yang penggunaannya dalam kalimat merupakan satu keharusan, tidak boleh dihilangkan.
Contoh dalam kalimat :
1)    Buku itu dibeli (oleh) Amir.
2)    Dibeli (oleh) Amir buku itu.
3)    Oleh Amir dibelinya buku itu.
4)    Buku itu dibeli di Toko Murah oleh Amir.
5)    Buku yang mahal itu tidak terbeli oleh Amir.
Kata oleh dalam posisi lain daripada itu tidak boleh dihilangkan. Pemakaiannya merupakan keharusan. Kata oleh seperti itu letaknya :
a.    pada permulaan kalimat (seperti pada kalimat 3)
b.    sesudah kata kerja berawalan di- yang dipisahkan oleh keterangan yang lain dengan kata kerja itu (lihat contohnya pada kalimat 4)
c.    di belakang kata kerja berawalan ter- (seperti pada kalimat 5)
Fungsi atau makna kata oleh ialah :
1)    sebagai penunjuk pelaku; misalnya,
diserahkan oleh Kakak
2)    sama artinya dengan sebab atau karena; misalnya,
tidak lapuk oleh hujan, tidak lekang oleh panas.
3)    menyatakan hubungan kekerabatan; misalnya,
Anak itu apa oleh Tuan ?
- o, dia kemanakan saya.
4)    Bersinonim dengan pada, kepada; misalnya,
Tak tampak olehnya (=kepadanya) macan tutul itu
5)    bersinonim dengan kata dengan; misalnya
pohon itu sarat oleh buah
(= sarat dengan buah)

Kata depan dengan :
Ada beberapa kesalahan yang dibuat orang dalam pemakaian kata depan dengan.
Perhatikan ungkapan berikut, yaitu ungkapan yang dibentuk dengan kata depan dengan sebagai ungkapan paduan kata.
-          berhubung dengan …
-          sesuai dengan …
-          seiring dengan …
-          berhubungan dengan …
-          bertalian dengan …
-          berkenaan dengan …
-          bertepatan dengan …
Ungkapan-ungkapan ini merupakan paduan tetap sehingga kata dengan tidak boleh dihilangkan dari paduannya itu. Orang biasanya dengan sengaja menghilangkan atau tidak menggunakan kata depan dengan seperti dalam kalimat.
Berhubung saya sakit, saya tak dapat masuk kantor hari ini.
Pemakaian kata berhubung dalam kalimat di atas salah. Di sini seharusnya digunakan karena. Jadi, di sini kita melihat bahwa orang menyamakan saja kata karena dengan berhubung sebagai dua kata yang bersinonim. Ada perbedaan antara kedua kata itu. Kata karena menyatakan hubungan sebab (kausalitas), sedangkan berhubung dengan menyatakan pertalian. Kata karena dapat diikuti oleh kata benda, kata kerja, dan kata sifat, sedangkan berhubung dengan hanya diikuti kata benda.
Berhubung dengan kesehatan saya agak terganggu, …
Berhubung dengan pemasukan uang kurang memadai, …
Demikiaan juga dengan kata sesuai dengan sekarang sering dikatakan sesuai saja tanpa dengan; misalnya, sesuai keputusan pemerintah, sesuai kehendak yang berwenang. Seharusnya dikatakan, sesuai dengan keputusan pemerintah, sesuai dengan kehendak yang berwenang.
Dalam percakapan sehari-hari biasanya kita dengar orang berkata sebagai berikut:
Kenalkah saudara dengan orang itu?
O, saya sudah lama kenal dengan dia.
Pemakain kata depan dengan dalam kalimat-kalimat seperti itu tidak tepat. Seharusnya dikatakan,
Kenalkah Saudara akan orang itu? Atau,
Kenalkah Saudara kepada oarang itu?
O, saya sudah lama kenal kepadanya.
Sudah lama saya mengenalnya.
Saya sudah berkenalan dengan dia.
Kata dengan dipakai dalam kalimat:
1)    dengan arti beserta, bersama-sama; misalnya,
Ali pergi dengan Umar.
2)    sama artinya dengan dan; misalnya,
Ali dengan Umar tak pernah berpisah.
3)    menyatakan alat; misalnya,
Adik sudah dapat menulis dengan pena.
4)    untuk mengeksplisitkan hubungan kata; misalnya,
Di sana saya bertemu dengan saudaranya.
5)    kira-kira sama artinya dengan sambil; misalnya,
Dia berkata dengan tersenyum.
Satu lagi kesalahan batu yang muncul akhir-akhir ini ialah penghilangan kata depan kepada di depan gatra kalimat yang berperan sebagai penerima (benefaktif). Saya persilakan Anda melihat contohnya.
Pinjaman $ 200 juta diberikan Indonesia.
Kalimat ini saya kutip dari salah satu sebuah surat kabar, sebagai kepala berita. Membaca kepala berita itu saya menjadi ingin tahu. Wah, Indonesia sekarang memberikan pinjaman dan jumlahnya pun besar, $ 200.000.000,00. Kepada negara mana pinjaman itu diberikan?
Ternyata sesudah beritanya saya baca, keadaanya menjadi terbalik. Bukan Indonesia yang memberikan pinjaman; Indonesialah yang mendapat pinjaman itu. Di mana letak kesalahan kalimat di atas?. Ternyata kata depan kepada di depan kata Indonesia dihilangkan sehingga frase itu dibaca/diartikan diberikan oleh Indonesia.
Di sana Andaa lihat bahwa depan kata depan kepada bukanlah kata depan yang dapat begitu saja dihilang-hilangkan. Kalau yang menjadi alasan redaksi tempat menulis terbatas, sehingga kalimat itu sengaja disingkatkan dengan membuang kata depan kepada, maka ada car lain untuk menyingkatkan kalimat itu; misalnya, dengan mengubah kalimat itu menjadi, Indonesia mendapat pinjaman $ 200 juta. Ini lebih singkat dan lebih jelas.

Saya kemukakan contoh lain:
1)    Bapak Presiden dibri kesempatan untuk memasuki Ka’bah, suatu kesempatan yang jarang diberikan tamu-tamu negara lainnya.

Diberikan tamu-tamu = diberikan oleh tamu=tamu, bukan diberikan kepada tamu-tamu, padahal justru itulah yang dimaksudkan. Di sini tampak penghilangan kata depan dengan tidak semena-mena merusak makna kalimat.

2)    Rencana mengalihkan kekuasaan itu belum sempat disampaikan Presiden, …

Disampaikan Presiden = disampaikan oleh Presiden, padahal yang dimaksud sebaliknya yaitu disampaikan kepada Presiden.

Dari contoh-contoh yang baru saja saya sebutkan itu kita melihat bahwa kata depan kepada tidak boleh dihilang-hilangkan begitu saja dalam kalimat karena makna dapat berubah.

BAHASA OLAH RAGA

Saya ingin membicarakan beberapa kesalahan bahasa yang sering kita junpai dalam bahasa olah raga dewasa ini, baiak bahasa yang terdapat dalam majalah atau harian, maupun yang diucapkan dilayar televisi atau dalam siaran radio.
Saya mulai dengan penggunaan kata memenangkan.
Kata memenangkan terbentuk dari kata dasar menang yang diberi imbuhan gabung me-kan. Lawan kata memenangkan imengalahkan sebab menang lawan kalah.
Contoh pemakaian dalam kalimat:
1)    Dalam pertandingan itu hongkong mengalahkan Indonesia 4–1
Makna imbuhan me-kan dengan kata bentukan mengalahkan dalam kalimat di atas ‘membuat kalah atau’membuat jadi kalah’. Jadi, Hongkong membuat Indonesia kalah.
2)    Indonesia dikalahkan Hongkong 4-1 dalam pertandingan itu? Dikalahkan artinya ‘dibuat kalah’.
Kalau mengalahkan berati ‘membuat jadi kalah’ atau menyebabkan kalah’, maka tentu memenangkan berati ‘membuat jadi menang’; sebaliknya dimenangkan artinya ‘dibuat jadi menang’
Marilah kita bandingkan kalimat di atas dengan kalimat-kalimat berikut.
3)    Niki Lauda berhasil memenangkan balapan mobil Furmula I
4)    Hongaria memenagkan pencalomba modern di Jerman Barat itu
Kalimat-kalimat yang sudah disebutkan tadi harus diubah menjadi:
Niki Lauda berhasil menang dalam balapan itu.
Regu Hongaria menang dalam pancalomba modern itu.
Atau dengan cara lain:
Niki Lauda berhasil menjuari balapan itu
Hongaria menjadi juara dalam pancalomba modern itu.
5)    Sore ini di Stadion Utama Senayan akan berhadapan kesebelasan Persipura melawan kesebelasan Persija.
Kalimat yang rancu diatas dapat kita kembalikan kepada bentuk yang tidak rancu seperti berikut.
Sore ini, di Stadion Utama Senayan, kesebelasan Persepura akan berhadapan dengan kesebelasan Persija
6)    Kepada juara pertama lomba layar itu mendapat hadiah sebesar seratus ribu rupiah.
Yang menysun kalimat itu tidak tahu bahwa subjek kalimat tidak boleh didahului oleh kata depan. Kalau kita bertnya. Siapa yang mendapat hadiah? Jawabnya ialah juara lomba layar itu, bukannya kepada juara lomba layar itu. Di sini jelas bahwa kalimat di atas klebihan kata depan kepada.
Jikalau kata depan kepada akan dipertahankan pemakaiannya dalam kalimat itu, maka predikat kalimat itu haruslah diganti, bukan mendapat melainkan diberikan, sehingga kalimat itu susunannya sebagai berikut;
Kepada juara lomba layar itu diberikan hadiah sebesar seratus ribu rupiah.
7)    Beatrix sebelumnya nyaris tersandung Candra dari Jawa Barat di semifinal.
Kata kerja berawalan ter dalam kalimat di atas yaitu tersandung diikuti kata benda yang menyatakan tenpat(di sini tempat itu ialah: Chandra). Oleh karena itu, haruslah diikuti oleh kata depan pada; jadi, bukan tersandung Candra melainkan tersandung pada Chandra. Bandingkan dengan kakinya tersandung pada akar itu.
           
SINGKATAN KATA
 Singkatan kata dapat dibagi dua yaitu 1) yang biasa disebut singkatan kata saja, yaitu kata yang disingkatankan dengan mengambil huruf-hurif awal kata, kemudian dibaca huruf demi huruf; misalnya, SMP, SMA, TVRI, PGRI, 2) singkatan kata yang dibaca sebagai kata; misalnya ABRI, Sekjen, Dirjen, Wadam disebut akronim 
Sebenarnya pembuatan kata-kata singkatan atau akronim tidaklah merupakan hal yang terlarang atau tabu. Singkatan kata atau akronim ada dalam setiap bahasa dan merupakan gejala yang universal sifatnya. Ada di antara Anda yang mungkin tidak sadar bahwa kata-kata seperti radar motel, merupakan kata singkatan; radar = radio detecting and ranging; motel = motorist hotel.
Dari bahasa Jawa             : degus           = gede bagus
                                                dewur           = gede duwur
Dari bahasa Sunda           : Combro        = Oncom di jero
                                                                         ‘oncom di dalam’
                                                misro            = amis di jero
                                                                         ‘manis di dalam’
Dari bahasa Indonesia     : Lettu, pungli, dsb.
Cara membuat kata-kata singkatan dalam bahasa Indonesia dewasa ini pun bermacam-macam. Ada yang bertata atau berasas, artinya yang mngikuti cara tertentu secara tetap, tetapi ada pula yang dapat kita golongkan ke cara yang tidak bertata atau berasas. Perhatikan cara yang saua kemukakan ini.
1)    Ada singkatan yang mengambil hiruf-hiruf awal kata seperti; RI, RRI, DPR, US (United States), WHO (World Health Orgazation).
2)    Ada yang mengambil bagian suku awal atau bagian awal kata seperti: Sekjen, Menlu.
3)    Ada yang mengambil bagian suku awal dan tengah kata seperti Pusdik(Pusat Pendidikan)
4)    Ada yang mengambil suku akhir dan suku tengah kata seperti tilang (bukti pelanggaran).
5)    Ada yang mengambil suku awal dan suku akhir kata seperti wadam (wanita adam), koptu (kopral satu).
6)    Ada singkatan yang dibentuk hany dengan mengambil bagian kata yang menonjol bunyi-bunyinya, atau gabungan jenis-jenis singkatan yang sudah disebutkan di atas; misalnya, Pusdiktif(Pusat Pendidikan Infantri), berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), Hankam (Pertahanan dan keamanan), urhibjah (urusan hiburan dan kesejahteraan).


EJAAN BAHASA INDONESIA
YANG DISEMPURNAKAN

Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan diresmikan oleh Bapak Presiden pemakinnya pada tanggal 16 Agustus 1972.
Masa peralihannya berlangsung 5 tahun artinya dalam masa peralihan itu masih dapat dipakai buku-buku yang dicetak dalam ejaan lama di sekolah-sekolah. Tetapi, bila buku itu akan dicetak ulang, haruslah dicetak dengan ejaan baru.
Ejaan yang Disempurnakan disusun oleh sebuah panitia yang ditunjuk oleh pemerintah. Ejaan itu disusun bersama-sama dengan panitia penyusun ejaan dari neraga tetangga Malaysia. Oleh sebab itu, ejaan yang kita gunakan di Indonesia sekarang itulah pula ejaan resmi yang digunakan di Negara Malaysia. Tujuannya jelas yaitu agar buku yang dicetak di kedua negara dapat dibaca baik oleh rakyat Indonesia maupun oleh rakyat Malaysia. Dengan demikian, kedua belah pihak dapat memetik keuntungan daripadanya.
Sembilan tahun berlalu sejak ejaan baru itu diresmikan pemakaiannya. Namun, sampai sekarang ini kita masih menemukan banyak kesalahan ejaan dibuat orang dalam tulisan. Itu sebabnya perlu dibicarakan kesalahan-kesalahan ejaan yang masih banyak dibuat orang itu.
Yang mudah sekali diingat ialah huruf-huruf yang kita tetapkan pengganti huruf-huruf lama. Pemakaian huruf yang lama dibandingkan dengan yang baru.
Ejaan lama                         Ejaan baru
tj – tjari                                 c – cari
dj – djari                               j – jari
j – jang                                 y – yang
ch – chitan                          kh – khitan
nj – njanji                            ny – nyanyi
sj – sjukur                           sy – syukur
selain daripada itu, dalam ejaan lama, huruf-huruf f, v, z tidak ditetapkan kedudukannya dengan jelas karena huruf-huruf itu masih tetap dianggap sebagi huruf-huruf asing yang hanya digunakan untuk menuliskan kata-kata asing. Dalam Ejaan yang Disempurnakan, huruf-huruf itu dimasukkan dalam daftar abjad bahsa Indonesia sebagai huruf- huruf untuk menuliskan kata-kata Indonesia (yaitu kata-kata pungut yang kita ambil dari bahasa asing).
Mengenai huruf x dan q ditetapkan bahwa kedua huruf itu dipakai juga khusus untuk nama dan keperluan ilmu. Misalnya, Al-Quran, Furqan, Xerxes, Xenon. Dalam matematika, dipakai misalnya X = 2Y; tariklah garis dari titik p ke titik q.
Ditetapkan pula bahwa apabila huruf x itu terdapat pada posisi tengah dari akhir kata, maka huruf itu diganti dengan ks, misalnya extra menjadi akstra, complex menjadi kompleks (jangan dijadikan komplek.
Mari kita bicarakan beberapa kesalahan ejaan yang masih saja kita kumpai sampai sekarang.
1.    Penulisan di
Sampai sekarang masih banyak orang yang tidak dapat membedakan mana di- yang disebut awalan dan yang dalam penulisannya dirangkaikan dengan kata yang di belakangnya, dan mana kata depan di yang dipisahkan menulisnya dari kata yang dibelakangnya.
Awalan hanya terdapat pada kata-kata yang tergolong jenis kata kerja dan dituliskan serangkai dengan kata kerja yang dilekatinya itu. Misalnya, dipukul, diambil. Kata depan biasanya dituliskan terpisah dengan kata-kata yang di depannya atau yang dibelakangnya contoh: di rumah, di kota di sana.
Ciri pengenal untuk membedakan awalan dengan kata depan yaitu :
a.    kata kerja berawalan di- selalu mempunyai pasangan bentuk me- . misalnya: dipukul – memukul.
b.    Kata depan di- yang diikuti kata benda tidak mungkin mempunyi pasangan bentuk me-.
c.    Kata depan di- mempunyai pasangan yaitu ke- dan dari
d.    Dengan menggunkan kata tanya diapakan?
2.    Partikel pun
Ada pun yang diserangkaikan menulisnya dengan kata yang didepannya tetapi ada pula pun yang dituliskan terpisah. Pertama, pertikel pun yang ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Kalimat yangb menggunakan pertikel pun dapat diubah bentuknya dengan menggunkan kata-kata seperti, meskipun, biarpun sungguhpun, yang menyatakan perlawanan. Partikel pun yang bersinonim dengan kata juga dituliskan terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Kedua, pertikel pun yang dituliskan serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Kelompok kata itu sudah dianggap padu benar sehingga dituliskan sebagai sepatah kata saja. Kata-kata yang dimaksud adalah adapun, andaipun, kendatipun, bagaimanapun, ataupun, biarpun, kalaupun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun.

3.    Penulisan kata gabung
Dalam buku pedoman ejaan baru dikatakan:
a.    Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, bagian-bagiannya umumnya ditulis terpisah. Misalnya, mata pelajaran.
b.    Gabungan kata termasuk istilah khusus yang mungkin menumbulkan salah baca, dapat diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian diantara unsur yang bersangkutan. Misalnya, alat pandang-dengar
c.    Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai. Misalnya, apabila, daripada.

4.    Penulisan kata ulang
Di dalam ketentuan Ejaan Republik yaitu ejaan resmi sebelum Ejaan yang Disempurnakan, penulisan kata ulang boleh dengan memaki angka 2 asal kata yang diulang itu dipisahkan dengan tanda hubung dengan bagian yang tidak mengalami perulangan. Misalnya, se-hari2, biri2.
Dalam buku pedoman ejaan yang baru bentuk ulang dituliskan secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Misalnya, sehari-hari, biri-biri.

5.    Pemakaian huruf besar atau huruf kapital
Pemakaian huruf kapital yang tercantum dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan sebagai berikut:
a.    huruf besar atau huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama pada awal kalimat
b.    huruf besar atau huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama petikan langsung
c.    huruf besar atau huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan hal-ihwal keagaman, kitab suci dan nama Tuhan termasuk kata gantinya.
d.    huruf besar atau huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang
e.    huruf besar atau huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang.
f.     huruf besar atau huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama orang.
g.    huruf besar atau huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama bangsa, suku dan bahasa.
h.    huruf besar atau huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya dan peristiwa sejarah.
i.      huruf besar atau huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi.
j.      huruf besar atau huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi.
k.    huruf besar atau huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku majalah, surat kabar, dan judul karangan. Kecuali kata pertikel seperti, di, ke, dari, untuk dan yang, yang tidak pada posisi awal
l.      huruf besar atau huruf kapital digunakan dalam singkatan nama gelar dan sapaan.
m.  huruf besar atau huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti Bapak, Ibu, Saudara, Kakak, Adik, dan Paman yang dipakaisebagi kata ganti atau sapaan.

6.    Pemakaian tanda titik
Aturan pemakaian tanda titik:
a.    Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang isinya bukan pertanyaan atau seruan. Jadi, dipakai pada akhir kalimat berita.
b.    Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang
c.    Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
d.    Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum. Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.
e.    Tanda titik dipakai dibelakang angka atau huruf dalam satu bagan, ikhtisar, atau daftar.
f.     Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu
g.    Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu

Tanda titik tidak digunakan dalam beberapa hal, yaitu

a.    Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah.
b.    Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terjadi dari huruf-huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, yang terdapat di dalam nama badan pemerintah, lembaga-lembaga nasional atau internasional, atau yang terdapat di dalam akronim yang sudah diterima oleh masyarakat.
c.    Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
d.    Tanda titik tidak dipakai dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
e.    Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal surat, atau nama dan alamat penerima surat.

MASALAH LAFAL BAHASA INDONESIA


Lafal bahasa Indonesia sampai sekarang belum dibakukan. Itu sebabnya jika ditanyakan bagaimana lafal bahasa Indonesia yang baku,     jawabnya sangat sukar diberikan.
Kita tahu fonem-fonem suatu bahasa terdiri atas dua macam fonem, yaitu yang pertama disebut vokal dan yang kedua disebut konsonan. Contoh vokal ialah / a, e, i, o, u, / dan konsonan ialah /b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, z /.
Gambar fonem-fonem itu disebut huruf. Sebutan yang biasa dipakai dalam tata bahasa tradisional huruf hidup dan huruf mati alih-alih mengatakan vokal dan konsonan adalah sebutan yang kurang tepat. Bunyi-bunyi bahasa yang terdapat dalam suatu bahasa disebut fomem dalam bahasa itu. Ada fonem yang terdapat dalam bahasa yang satu, tetapi tidak tedapat dalam bahasa yang satu lagi. Misalnya, bahasa Arab tidak mengenal fonem / p /; yang ada dalam bahasa itu hanyalah / f /. Sebaiknya ada beberapa fonem bahasa Arab yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Bahasa Jepang tidak mengenal fonem / l /, sedangkan bahasa Cina tidak mengenal fonem / r /.

Fonem-fonem bahasa Indonesia mudah dilafalkan. Disamping itu huruf-huruf Latin yang kita pakai dalam bahasa Indonesia masing-masing mewakili satu fonem dengan bunyi yang sama. Maksudnya, bukan seperti dalam bahasa Inggris, dimana satu huruf dapat mewakili beberapa bunyi. Misalnya, huruf i pada kata knife ‘pisau’ dilafalkan sebagai /ai/, sedangkan knit’merajut’ dilafalkan sebagai /i/ dalam bahasa Indonesia ini. Karena itu tidak ada huruf dalam bahasa Indonesia yang boleh dilafalkan 2 macam. Misalnya, tidak terdapat kata yang ditulis dengan huruf a yang dilafalkan dengan bunyi /e/.

Sehubungan dengan keterampilan di atas, maka kata memuaskan, memperhatikan, mendengarkan, tidak boleh dibaca seperti kata kata memuasken, memperhatiken, mendengarken,. Jadi, kan tidak boleh dibaca /ken/. Demikian juga kata-kata yang tertulis harap, malam, datang, jangan dibaca seperti harep, malem, dateng. Bunyi /huruf /a/ yang dilafalkan/dibaca /e/ dipengaruhi oleh bahasa daerah atau dialek.
Pengaruh bahasa daerah atau dialek memang besar. Karena pengaruh bahasa Batak dan bahasa  Toraja (Sa’dang), kata-kata yang sebenarnya dalam bahasa Indonesia berbunyi /e/ pepet, dilafalkan dengan bunyi /e/ benar. Karena itu, kata-kata seperti mengapa, ke mana, berapa, dilafalkan dengan bunyi /e/ benar sepert pada kata ekor, besok, sate. Lafal seperti itu tentulah bukan lafal bahasa  Indonesia ragam resmi.
Bahasa Gorontalo tidak mengenal bunyi e pepet. Di dalam bahasa  itu, bunyi /o/ besar sekali frekuensinya (kekerapan) pemakaiannya. Karena itu, kebiasaan ber bahasa  daerah itu mempengaruhi bahasa  Indonesian si dwibahasawan orang Gorontalo. Kata-kata dengan bunyi e pepet dalam bahasa  Indonesia seperti keterangan, penerangan, berteman,  ilafalkan mereka kotorangan, ponorangan, bortoman.
Bunyi-bunyi /t/ pada suku bangsa Aceh dan Bali dilafalkan dengan ujung lidah yang agak ditekukkan ke atas mendekati langit-langit keras (palatum). Biasanya sukar bagi orang Aceh dan Bali mengihilangkan kebiasaan itu sehingga /t/ dalam kata-kata bahasa  Indonessia pun dilafalkan seperti itu.
Karena pengaruh bahasa daerah, saudara-saudara kita suku Sunda sering menambahkan bunyi /h/ pada kata-kata Indonesia yang tidak berfonem /h/. contoh perbandingannya :

                 Bahasa Indonesia      Bahasa Sunda

              Ayam                                       hayam

                     Utang                                       hutang
                     Alangan                                  halangan
                     Buaya                                      buhaya
                     Tiang                                        tihang
                     Gua                                          guha
                     Rapi                                         rapih

              Musna                                     musnah

Kata hutang dan halangan lebih banyak dipakai dalam bahasa Indonesia sekarang ini dari pada utang dan alangan yang merupakan bentuk asanya.
Kesalahan yang banyak kita dengar sekarang ini ialah bercampuraduknya bunyi e pepet dan e benar dalam bahasa  Indonesia. Kata-kata yang seharusnya dilafalkan dengan e pepet dilafalkan orang dengan e benar, demikian pula sebaliknya.
Kata-kata peka, lengah, sengketa, gembong, tebar seharusnya dilafalkan dengan bunyi e benar seperti pada kata-kata ekor, enek, merah, esok, repot, belok, serong, pestol. Dalam kehidupan sehari-hari malah lebih sering kita dengar orang melafalkannya dengan e pepet seperti pada kata-kata senang, besar, beras, terang, jelas, gerak.
Buku-buku tata bahasa yang ada, yang dipakai sekarang ini di sekolah, umumnya tidak membahas masalah lafal. Sebaiknya hal ini mendapat perhatian sehingga hal-hal tertentu dapat dijelaskan secara mantap sehingga bunyi-bunyi yang seharusnya dilafalkan dengan e benar tidak dilafalkan dengan e pepet, atau sebaliknya.
Kalau ditanyakan kepada kita bagaimana lafal atau ucapan bahasa Indonesia yang baku, sukar untuk menjawabnya. Yang menjadi pegangan pada kita  sekarang ini hanyalah bahwa “lafal bahasa Indonesia baku ialah lafal yang tidak memperdengarkan ‘warna’ lafal bahasa asing seperti bahasa Belanda, Arab, atau Inggris. Jadi, kalua ada seseorang yang bertutur bahasa Indonesia sukar ditebak dari suku bangsa mana ia berasal karena lafal dan lagunya tidak memperdengarkan warna daerah atau asing, maka kita katakan orang itu telah berbahasa Indonesia yang baik, dan dengan baik pula.

1 komentar: